-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Batam Didorong Jadi Pusat Data Global, Kesiapan Listrik dan Air Jadi Penentu

| October 11, 2026 WIB | 0 Views

Penandatanganan serangkaian perjanjian kerja sama strategis bersama PT. PLN Batam dan PT Digitalland Service One (DayOne), pada Jumat (17/4/2026) di Balairung Sari BP Batam. (Sumber : Istimewa)


BATAM | Batam, Kepulauan Riau, semakin diperhitungkan sebagai lokasi pengembangan pusat data (data center) dan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Asia Tenggara. Pemerintah pusat dan Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong pengembangan sektor tersebut, dengan menempatkan kesiapan listrik, ketersediaan air, konektivitas digital, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sebagai faktor penentu keberhasilannya.


Dukungan terbaru datang dari Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara. Dalam keterangan yang diberitakan ANTARA pada Sabtu, 10 Oktober 2026, Iftitah mendukung pemanfaatan teknologi pengolahan air laut untuk memenuhi kebutuhan industri pusat data di Batam tanpa mengabaikan pasokan air bagi masyarakat.


“Investasi harus berjalan bersama tanggung jawab. Kebutuhan air pusat data harus disiapkan dengan baik, termasuk melalui SWRO,” kata Iftitah dalam keterangannya yang diterima di Batam, Jumat (9/10), sebagaimana diberitakan ANTARA.


Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ambisi menjadikan Batam sebagai pusat data berskala global tidak cukup hanya mengandalkan minat investor. Infrastruktur dasar dan pengelolaan sumber daya harus berkembang sejalan dengan peningkatan kapasitas industri.


Potensi Investasi Pusat Data Mencapai 1,47 GW

BP Batam memetakan kapasitas pusat data yang telah beroperasi, masuk dalam komitmen investasi, dan berada dalam pipeline mencapai 1,47 gigawatt (GW) IT. Angka ini menunjukkan besarnya potensi pengembangan sektor pusat data di Batam, tetapi tidak seluruhnya dapat diartikan sebagai kapasitas yang sudah beroperasi.


Dalam laporan ANTARA pada 25 September 2026, Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis menyebut 2029 diproyeksikan menjadi titik kritis ketika kebutuhan listrik pusat data mulai melampaui separuh beban puncak listrik Batam.


PLN Batam memproyeksikan beban puncak listrik meningkat dari 841 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 2.540 MW pada 2035. Untuk mengantisipasinya, kapasitas daya mampu pasok direncanakan meningkat hingga 3.691 MW.


Angka-angka tersebut merupakan proyeksi, bukan kondisi yang sudah terjadi. Realisasinya akan bergantung pada pertumbuhan permintaan, pembangunan pembangkit dan jaringan, serta perkembangan proyek pusat data.


Fary menegaskan pentingnya menyelaraskan investasi dengan kesiapan infrastruktur.


“Jangan sampai investasi datang lebih cepat daripada kesiapan listrik. Infrastruktur harus mendahului pertumbuhan, bukan tertinggal di belakangnya,” ujar Fary, sebagaimana dikutip ANTARA.


Ketersediaan energi yang andal menjadi kebutuhan utama pusat data karena fasilitas ini harus menopang pengoperasian server, penyimpanan informasi, komputasi awan, dan layanan AI secara berkelanjutan.


Bagi Batam, tantangannya adalah memastikan pertumbuhan permintaan listrik industri tidak mengurangi keandalan pasokan bagi rumah tangga dan sektor usaha lainnya.


Kebutuhan Air Menjadi Bagian dari Perencanaan Investasi

Selain listrik, kebutuhan air menjadi perhatian dalam pengembangan pusat data di Batam, khususnya di kawasan Kabil dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa.


Pada 24 September 2026, BP Batam menyatakan akan mendorong setiap investasi pusat data membangun instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yakni teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar melalui proses membran bertekanan.


Kebijakan tersebut diarahkan agar kebutuhan air operasional pusat data tidak membebani pasokan air baku dari waduk yang juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


BP Batam menyebut terdapat 10 rencana pengembangan pusat data dan satu fasilitas telah beroperasi dalam konteks rencana tersebut. Pemerintah juga memproyeksikan tambahan kapasitas produksi air melalui pengembangan SWRO di kawasan Nongsa dan Kabil, dengan tahap awal sekitar 750 liter per detik dan potensi peningkatan hingga sekitar 1.000 liter per detik.


Kapasitas itu merupakan proyeksi pengembangan, bukan tambahan pasokan yang sudah seluruhnya tersedia saat ini.


Kepala BP Batam Amsakar Achmad menegaskan bahwa kebutuhan industri perlu disiapkan tanpa mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat. Dalam pemberitaan ANTARA pada 24 September, ia menjelaskan bahwa pelaku industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar didorong memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO.


Pengolahan air laut dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan terhadap sumber air tawar. Namun, penerapannya tetap membutuhkan investasi, energi, pengelolaan air pekat hasil desalinasi atau brine, serta pengawasan kualitas air.


Keberhasilan kebijakan tersebut perlu dinilai dari kapasitas instalasi yang benar-benar dibangun, jumlah air yang dihasilkan, dan kemampuannya memenuhi kebutuhan industri tanpa mengurangi layanan bagi warga.


Kabel Bawah Laut Memperkuat Posisi Digital Batam

Daya tarik Batam tidak hanya berasal dari lokasi geografisnya yang dekat dengan Singapura. Infrastruktur konektivitas internasional juga menjadi bagian penting dari pengembangan ekosistem pusat data.


Pada 20 Juli 2026, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengumumkan pendaratan sistem kabel bawah laut Nongsa–Changi. Infrastruktur tersebut memperkuat hubungan konektivitas digital antara Batam dan Singapura, sekaligus mendukung pengembangan layanan digital, pusat data, dan teknologi AI.


Konektivitas kabel bawah laut memungkinkan pertukaran data lintas negara dengan dukungan jaringan berkapasitas tinggi. Bagi operator pusat data, akses ke jaringan internasional merupakan salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi fasilitas dan mengembangkan layanan kepada pelanggan regional maupun global.


Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra juga membawa pesan pengembangan ekosistem pusat data Batam dalam kegiatan Tech Week Singapore 2026 pada 30 September.


Menurut Li Claudia, pengembangan pusat data perlu didukung ekosistem yang terintegrasi dan kepastian investasi dalam jangka panjang. Pendekatan tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, kesiapan layanan, serta upaya memastikan pertumbuhan industri memberi manfaat bagi perekonomian daerah.


Namun, keberadaan kabel bawah laut dan minat investor saja belum cukup untuk menjadikan Batam pusat data global. Daya saing juga bergantung pada keandalan listrik, pasokan air, keamanan siber, kualitas jaringan, ketersediaan tenaga profesional, dan kepastian regulasi.


Investasi Padat Modal Perlu Diimbangi Lapangan Kerja

Tantangan berikutnya adalah memastikan investasi pusat data memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Batam.


Pusat data membutuhkan investasi besar untuk lahan, bangunan, sistem pendingin, server, jaringan, dan perangkat kelistrikan. Namun, karakter industri yang padat modal tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, terutama setelah fasilitas beroperasi.


Persoalan tersebut mulai mendapat perhatian BP Batam. Dalam laporan ANTARA pada 9 Oktober 2026, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Investasi BP Batam Irfan Syakir Widyasa menyampaikan bahwa BP Batam tengah menyiapkan lahan dan perizinan untuk pengembangan industri padat karya guna mengimbangi pertumbuhan investasi pusat data.


Strategi ini penting untuk memperluas manfaat pertumbuhan ekonomi. Industri pendukung, konstruksi, pemeliharaan fasilitas, jaringan, keamanan siber, dan layanan teknologi dapat membuka peluang kerja dengan kebutuhan kompetensi yang beragam.


Akan tetapi, besarnya dampak terhadap tenaga kerja lokal perlu dibuktikan melalui data realisasi investasi, jumlah pekerja yang direkrut, tingkat keterlibatan tenaga kerja lokal, serta program pelatihan yang benar-benar berjalan.


Pengembangan pusat data juga membuka kebutuhan peningkatan keterampilan di bidang jaringan komputer, administrasi sistem, keamanan informasi, komputasi awan, manajemen fasilitas, dan teknologi AI.


Pendidikan vokasi, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, serta industri perlu membangun hubungan yang lebih erat agar kebutuhan tenaga kerja dapat dipenuhi melalui pengembangan kompetensi masyarakat setempat.


Pusat Data Global Harus Memberi Manfaat bagi Batam

Dorongan menjadikan Batam sebagai pusat data berskala global memperlihatkan peluang transformasi ekonomi dari basis industri manufaktur menuju ekosistem teknologi yang lebih maju.


Namun, keberhasilan strategi tersebut tidak semestinya hanya diukur dari nilai investasi atau besarnya kapasitas pusat data yang direncanakan. Kesiapan utilitas, perlindungan lingkungan, ketahanan air, keandalan energi, dan kualitas lapangan kerja juga harus menjadi ukuran.


Pemerintah perlu memastikan pembangunan infrastruktur berjalan seiring dengan pertumbuhan kebutuhan industri. Investor perlu memenuhi kewajiban penyediaan utilitas dan pengelolaan lingkungan. Sementara itu, masyarakat perlu memperoleh informasi yang transparan mengenai dampak investasi terhadap layanan dasar dan kesempatan kerja.


Batam memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam ekonomi digital regional. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah peluang tersebut menjadi pertumbuhan yang dapat dipertahankan, dengan manfaat yang terukur bagi masyarakat serta infrastruktur yang memadai untuk menopang kebutuhan industri dan kehidupan perkotaan.

×
Berita Terbaru Update