![]() |
| Penonton Moto GP Mandalika (Foto : Istimewa) |
Lombok | Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Nusa Tenggara Barat, pada 9–11 Oktober mencatat lebih dari 157 ribu penonton. Capaian tersebut memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism, sekaligus meningkatkan harapan terhadap perputaran ekonomi di sektor pariwisata, akomodasi, transportasi, kuliner, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut jumlah penonton tahun ini mencapai 157 ribu orang. Ia juga optimistis target dampak ekonomi sebesar Rp5 triliun dapat terlampaui. Namun, hingga Minggu (11/10/2026), angka Rp5 triliun tersebut masih berupa target yang disampaikan pemerintah, bukan hasil penghitungan akhir yang telah dipublikasikan.
“Penyelenggaraan tahun ini finis terbaik. Penonton tembus 157 ribu orang,” kata Erick kepada wartawan seusai balapan di Sirkuit Mandalika, Minggu, sebagaimana diberitakan ANTARA.
Erick menilai ajang olahraga internasional berpotensi menggerakkan ekonomi daerah dan nasional. Ia juga mendorong pengembangan fasilitas olahraga terpadu di Mandalika agar manfaat kawasan tidak hanya bergantung pada satu agenda balap setiap tahun.
Hotel penuh, UMKM merasakan peningkatan penjualan
Dampak penyelenggaraan MotoGP mulai terlihat pada aktivitas usaha selama periode balapan. Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini, sebelumnya menyampaikan bahwa tingkat hunian hotel di kawasan Mandalika telah mencapai 100 persen. Sejumlah kawasan lain, termasuk Mataram dan Senggigi, mencatat okupansi sekitar 80–90 persen menjelang balapan.
Peningkatan permintaan akomodasi menunjukkan bahwa dampak acara meluas dari area sirkuit ke destinasi lain di Lombok. Meski demikian, tingkat hunian yang tinggi tidak otomatis menggambarkan besarnya keuntungan bersih pengusaha karena masih terdapat biaya operasional dan faktor lain yang perlu diperhitungkan.
Di dalam kawasan sirkuit, pelaku UMKM juga melaporkan peningkatan penjualan. Baiq Rohayani, pedagang kuliner yang menjual jajanan tradisional cerorot dan nasi kotak, mengatakan dagangannya laris selama dua hari pertama penyelenggaraan. Ia mengaku bisa memperoleh penjualan lebih dari Rp2,5 juta per hari.
“Alhamdulillah, dua hari pelaksanaan MotoGP jualan laku keras,” ujar Rohayani kepada ANTARA, Minggu.
Pemerintah Provinsi NTB melibatkan 114 UMKM untuk berjualan di area penyelenggaraan tahun ini. Produk yang dijual didominasi kuliner, disertai kerajinan dan suvenir lokal. Pemerintah daerah menyatakan peserta UMKM tersebut telah melalui proses kurasi dan memperoleh pendampingan sebelum berjualan.
Data tersebut memberikan gambaran konkret tentang manfaat yang diterima sebagian pedagang. Namun, pendapatan satu pedagang tidak dapat digunakan untuk mewakili seluruh UMKM. Nilai transaksi keseluruhan, keuntungan bersih, dan perbandingan pendapatan dengan hari biasa masih perlu dihimpun untuk mengukur manfaat ekonomi secara lebih menyeluruh.
Target Rp5 triliun perlu dibaca secara cermat
Dalam keterangan yang diberitakan ANTARA pada 8 Oktober, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney membidik dampak ekonomi penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 mendekati Rp5 triliun. Penyelenggara menyebut kegiatan ini melibatkan hingga 3.000 tenaga kerja lokal dan sekitar 600 UMKM dalam ekosistem penyelenggaraan serta kegiatan ekonomi pendukung.
Sementara itu, laporan penyelenggara menyebut MotoGP Mandalika 2025 menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp4,96 triliun secara nasional. Angka tersebut menjadi salah satu dasar optimisme terhadap penyelenggaraan tahun ini.
Meski demikian, angka dampak ekonomi perlu dipahami sesuai metode perhitungannya. Perputaran uang, nilai tambah ekonomi, pendapatan usaha, dan penerimaan pemerintah merupakan indikator berbeda. Perputaran uang dapat mencakup transaksi yang berpindah dari satu pelaku ekonomi ke pelaku lain, sedangkan nilai tambah mengukur kontribusi bersih aktivitas produksi terhadap perekonomian.
Karena itu, klaim bahwa dampak ekonomi 2026 melampaui Rp5 triliun perlu menunggu hasil pengukuran yang menjelaskan cakupan wilayah, periode perhitungan, metode, serta komponen yang dihitung. Tanpa rincian tersebut, angka target belum cukup untuk menunjukkan seberapa besar tambahan manfaat bersih yang benar-benar dihasilkan bagi masyarakat.
Dari acara tiga hari menuju manfaat sepanjang tahun
Tantangan MotoGP Mandalika tidak berhenti pada peningkatan jumlah penonton. Agenda yang berlangsung selama tiga hari itu perlu menjadi pintu masuk bagi pengembangan pariwisata dan usaha lokal sepanjang tahun.
Salah satu indikator keberhasilan jangka panjang ialah kemampuan destinasi menarik wisatawan di luar periode balapan. Hotel, restoran, penyedia transportasi, pemandu wisata, perajin, serta pelaku usaha di desa sekitar perlu memperoleh peluang pasar yang berkelanjutan, bukan hanya ketika kawasan dipadati pengunjung.
Keterlibatan UMKM juga perlu dievaluasi dari kualitas manfaatnya. Jumlah peserta penting, tetapi perlu dilengkapi data nilai transaksi, keuntungan, asal pemasok, penggunaan tenaga kerja lokal, dan jumlah usaha yang kembali memperoleh pesanan setelah acara selesai. Data tersebut dapat membantu pemerintah menentukan apakah manfaat penyelenggaraan telah tersebar atau masih terkonsentrasi pada kelompok usaha tertentu.
Erick Thohir turut mendorong pengembangan fasilitas olahraga lain, seperti lapangan golf, jalur jogging, lapangan tenis, dan fasilitas olahraga raket. Pengembangan ini berpotensi memperluas kalender kegiatan dan memperpanjang masa kunjungan wisatawan. Namun, realisasinya tetap perlu mempertimbangkan kelayakan investasi, kebutuhan pasar, biaya pemeliharaan, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat setempat.
Menteri juga menyampaikan klaim bahwa tingkat kemiskinan di sekitar Mandalika turun hampir 3 persen. Klaim tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa penurunan kemiskinan disebabkan oleh MotoGP. Untuk memastikan hubungan sebab-akibat, diperlukan data resmi yang menjelaskan indikator kemiskinan yang digunakan, periode perbandingan, wilayah pengukuran, serta faktor lain yang turut memengaruhi perubahan tersebut.
Mengukur keberhasilan dari manfaat yang bertahan
MotoGP Mandalika memperlihatkan potensi olahraga internasional sebagai penggerak pariwisata dan aktivitas ekonomi. Jumlah penonton yang meningkat, okupansi hotel yang tinggi, serta kesaksian pedagang mengenai penjualan yang naik merupakan sinyal positif.
Namun, keberhasilan penyelenggaraan tidak semestinya hanya dinilai dari jumlah penonton atau besarnya proyeksi perputaran uang. Evaluasi juga perlu mengukur nilai tambah ekonomi, kualitas pekerjaan yang tercipta, distribusi manfaat bagi masyarakat lokal, dan keberlanjutan usaha setelah acara berakhir.
Dengan evaluasi yang terbuka dan berbasis data, MotoGP dapat menjadi lebih dari sekadar tontonan kelas dunia. Ajang ini berpeluang menjadi instrumen pengembangan ekonomi daerah yang manfaatnya dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan oleh masyarakat NTB.
