BATAM | Kabut asap kembali mengganggu aktivitas pendidikan di Kota Batam, Kepulauan Riau. Pemerintah Kota Batam mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi belajar dari rumah (BDR) bagi siswa jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP) mulai Rabu, 7 Oktober 2026, menyusul memburuknya kualitas udara.
![]() |
| Data ISPU Kota Batam (sumber : silh.batam.go.id) |
Kebijakan tersebut berlaku bagi sekolah negeri maupun swasta hingga kondisi udara membaik dan dinyatakan aman untuk pembelajaran tatap muka. Langkah ini kembali mengubah pola belajar siswa setelah kebijakan serupa diterapkan pada akhir September 2026.
Berdasarkan laporan ANTARA pada 6 Oktober 2026, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Batam, Sularno, menyebut indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di Batam mencapai angka 156 pada siang hari. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
“Besok BDR karena kondisi udara tidak mendukung. Indeks kita tadi siang di angka 156. Kami berlakukan mulai besok sampai kondisi indeksnya agak lebih baik, lebih sehat,” kata Sularno, sebagaimana dikutip ANTARA dalam pemberitaan pada 6 Oktober 2026.
Kualitas Udara Memburuk, Sekolah Kembali Beradaptasi
Data pemantauan kualitas udara turut menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai. Portal Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Batam mencatat nilai ISPU sebesar 104 pada 5 Oktober, 118 pada 6 Oktober, 135 pada 7 Oktober, dan 130 pada 8 Oktober 2026. Seluruh angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
Data tersebut bersumber dari analisis Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam berdasarkan pengukuran konsentrasi pencemar udara di Stasiun Meteorologi Hang Nadim yang dikelola Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kondisi ini memperlihatkan bahwa gangguan kualitas udara bukan hanya persoalan jarak pandang atau kenyamanan beraktivitas di luar ruangan. Paparan partikulat juga menjadi perhatian bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan.
Meski demikian, data kualitas udara tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan sumber spesifik kabut asap. Penentuan asal asap membutuhkan informasi pendukung, seperti pemantauan titik panas, arah angin, dan hasil analisis instansi terkait.
Pembelajaran Tetap Berjalan dari Rumah
Pengalihan pembelajaran ke rumah merupakan langkah perlindungan terhadap siswa sekaligus tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan. Sekolah perlu menyesuaikan metode pembelajaran agar materi pelajaran tetap tersampaikan meskipun kegiatan tatap muka dihentikan sementara.
Dalam pemberitaan ANTARA pada 29 September 2026, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, menjelaskan bahwa sekolah dapat memulai pembelajaran jarak jauh melalui penugasan dan mengembangkannya dengan metode daring sesuai kondisi masing-masing satuan pendidikan.
Guru dan kepala sekolah juga berperan dalam memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung, memantau kehadiran siswa, serta berkoordinasi dengan orang tua mengenai perkembangan pembelajaran dan kondisi kesehatan anak.
Namun, pelaksanaan BDR tidak otomatis menjamin seluruh siswa memperoleh pengalaman belajar yang setara. Ketersediaan perangkat, akses internet, pendampingan orang tua, dan kemampuan sekolah menyusun pembelajaran jarak jauh menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Karena itu, evaluasi kebijakan tidak cukup hanya melihat apakah siswa berada di rumah. Keberlangsungan pembelajaran, ketercapaian materi, dan kondisi siswa selama periode tersebut juga perlu menjadi bagian dari pemantauan.
Pemantauan Udara dan Perlindungan Anak Perlu Berjalan Bersamaan
Dinas Pendidikan Batam menyatakan terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk memantau perkembangan kualitas udara sebagai dasar evaluasi kebijakan pembelajaran.
Di sisi lain, pemerintah dan satuan pendidikan perlu memastikan informasi mengenai kondisi udara disampaikan secara jelas kepada orang tua. Masyarakat juga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai saat diperlukan, serta mencari pertolongan medis jika mengalami gangguan pernapasan.
Keputusan untuk kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka perlu mengacu pada perkembangan kualitas udara dan penilaian keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata berdasarkan berkurangnya kabut yang terlihat.
Kabut asap yang berulang menjadi pengingat bahwa perlindungan kesehatan dan keberlangsungan pendidikan harus ditangani secara bersamaan. Bagi Batam, tantangannya bukan hanya memastikan siswa tetap belajar selama kualitas udara memburuk, tetapi juga membangun mekanisme respons yang cepat, terukur, dan transparan ketika kondisi serupa kembali terjadi.
